Senator Maya Rumantir  Mengenang Bunda Teresa dan Paus Yohanes Paulus II dalam Gema Damai Dunia:  Pancasila di Hati Paus, Doa Ibu Teresa untuk Indonesia

KITAKATOLIK.COM—Di bawah langit September yang teduh, gemuruh seruan damai kembali menggema di seluruh penjuru bumi. Peringatan Hari Perdamaian Dunia yang jatuh pada tanggal 21 September menjadi momen refleksi profetik bagi Senator DR Maya Rumantir MA, PhD.

Melalui lorong waktu yang sarat makna, sang Senator membuka lembaran memori emas saat dirinya bersua langsung dengan dua raksasa kerohanian dunia: Bunda Teresa dari Kalkuta dan Paus Yohanes Paulus II. Pertemuan khusus dan pribadi tersebut bukan sekadar nostalgia seremonial, melainkan sebuah estafet komitmen moral yang melampaui batas sekat keyakinan, bangsa, maupun batas-batas geografis manusiawi.

Bunda Teresa, sang mistikus cinta kasih, meninggalkan impresi batin yang teramat kuat bagi Senator Maya Rumantir dalam audiensi khusus mereka. Melalui senyumnya yang teduh di balik jubah putih bergaris biru, Santa Kalkuta ini menitipkan sebuah pesan dan doa khusus yang sangat mendalam bagi keberlangsungan Bangsa Indonesia.

Amanah spiritual universal tersebut secara khusus diamanatkan kepada Maya untuk disiarkan secara meluas pada stasiun televisi nasional TVRI melalui program ikonik “Pandu Prestasi Putera Pertiwi”. Rekam jejak doa ini menjadi bukti nyata komitmen sang martir kemanusiaan terhadap keharmonisan masyarakat Nusantara yang majemuk.

Sementara itu, lembaran memori berharga lainnya terukir indah tatkala Senator Maya Rumantir menjalani audiensi pribadi bersama Paus Yohanes Paulus II. Sebuah momen spontanitas yang amat menggetarkan terjadi ketika sang Paus Agung mengetahui bahwa wanita di hadapannya merupakan putri asli Indonesia. Tanpa ragu, pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia itu langsung mengucapkan satu kata sakral dengan penuh penekanan kegembiraan: “Pancasila!”. Refleks penuh makna dari sang Santo tersebut mempertegas pengakuan dunia internasional atas dasar ideologi luhur bangsa kita dalam merawat perdamaian di tengah keberagaman suku.

Kiprah penuh pengorbanan dari kedua tokoh suci ini menemukan relevansi yang sangat krusial dengan esensi perayaan global tahun ini. PBB menetapkan tema mulia “Invest in Peace – For Everyone, Everywhere, Every Day” demi memanggil seluruh umat manusia bertindak nyata.

Bunda Teresa sepanjang hayatnya telah mencontohkan bentuk investasi perdamaian yang paling radikal, yakni melalui pelayanan kasih langsung kepada kaum termiskin dan terabaikan. Beliau membuktikan bahwa kedamaian sejati tidaklah dibangun melalui pidato politik retoris, melainkan lewat sentuhan kepedulian yang dilakukan secara konsisten setiap hari di lingkungan terdekat kita.

Di sisi lain, warisan kepemimpinan visioner Santo Paus Yohanes Paulus II melengkapi fondasi makro dari investasi perdamaian sejagat tersebut. Sepanjang pontifikatnya yang panjang, beliau tiada henti melintasi batas benua untuk merajut jembatan dialog antarkerukunan umat beragama demi meredam bara konflik global. Kekaguman sang Paus terhadap Pancasila menjadi penanda kuat bahwa Indonesia memiliki instrumen investasi perdamaian terbaik yang harus terus dijaga keutuhannya. Melalui harmoni kebangsaan, perdamaian dunia bukan lagi utopia, melainkan sebuah keniscayaan terukur yang dibangun di atas pilar keadilan sosial bagi sesama.

Bagi Senator Maya Rumantir, pesan luhur dari kedua figur kudus itu laksana kompas penuntun dalam mengemban amanah sebagai wakil rakyat Indonesia. Tantangan zaman modern yang dipenuhi polarisasi opini menuntut setiap individu untuk menjadi arsitek perdamaian di ruangnya masing-masing.

Warisan doa Bunda Teresa dan kekaguman Paus terhadap falsafah Pancasila merupakan modal spiritual berharga yang harus diwujudnyatakan secara konkret. Perdamaian sejati memerlukan investasi waktu, energi, dan ketulusan nurani yang terus dipupuk tanpa mengenal lelah demi keselamatan masa depan generasi penerus.

Investasi terhadap perdamaian mengharuskan adanya tindakan aktif untuk menghapus sekat kebencian dan merangkul sesama dalam ikatan persaudaraan yang utuh. Hal ini selaras dengan ajaran kasih universal yang senantiasa digaungkan oleh Bunda Teresa dalam setiap pelayanan kemanusiaannya yang tak bertepi.

Ketika kita bersedia berkorban ego demi menolong sesama yang menderita, di situlah benih perdamaian otentik mulai tumbuh subur secara alami. Senator Maya Rumantir percaya bahwa kepekaan sosial adalah investasi terbesar yang bisa disumbangkan oleh setiap warga negara saat ini.

Lebih jauh lagi, pemaknaan mendalam atas kata Pancasila yang diucapkan sang Paus harus diinternalisasi ke dalam sendi kehidupan berbangsa. Pancasila bukan sekadar pajangan dinding formalitas negara, melainkan manifestasi hidup dari komitmen bersama untuk saling menghormati di tengah perbedaan. Ketika setiap elemen bangsa menginvestasikan hidupnya demi menegakkan nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan persatuan, maka stabilitas nasional akan tercipta. Dari stabilitas domestik inilah Indonesia mampu memberikan kontribusi nyata bagi terciptanya tatanan dunia yang jauh lebih damai berkelanjutan.

Melalui momentum Hari Perdamaian Dunia ini, Senator Maya Rumantir mengajak seluruh elemen bangsa untuk menghidupkan kembali nyala api keteladanan kedua tokoh suci tersebut. Setiap warga mempunyai tanggung jawab moral yang sama untuk menginvestasikan kebaikan dalam interaksi sosial mereka sehari-hari. Konflik besar seringkali bermula dari pengabaian terhadap hal kecil, sehingga perdamaian pun harus dirawat mulai dari unit terkecil keluarga. Mari kita jadikan ruang digital dan lingkungan sosial sebagai ladang subur penyemaian inspirasi damai, bukan panggung permusuhan.

Menatap masa depan dengan optimisme, warisan spiritual berupa doa khusus untuk Indonesia dari Kalkuta harus terus digemakan maknanya melintasi zaman. Senator Maya Rumantir berkomitmen untuk terus menyuarakan pentingnya merawat harmoni sosial ini di setiap langkah pengabdiannya kepada Ibu Pertiwi.

Sejarah telah mencatat bahwa perdamaian sejati membutuhkan keteguhan prinsip dan konsistensi perjuangan yang tidak pernah padam dari para tokoh bangsa. Pada akhirnya, berinvestasi untuk perdamaian berarti memastikan bahwa setiap manusia dapat hidup dengan penuh martabat, kebebasan, dan cinta. (Recky Paulus Runtuwene)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *