Pada suatu hari, Yesus bersabda kepada kedua belas muridNya: “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.
Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.
Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.
Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar.
Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.”
Setelah Yesus selesai berpesan kepada kedua belas murid-Nya, pergilah Ia dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka. (Matius 10:34-11:1).

Oleh: Romo John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng.
Bacaan Injil hari ini, lebih khusus Matius 10: 38-39 berisi pengajaran Yesus tentang syarat mutlak kemuridan dan harga yang harus dibayar untuk mengikuti Dia.
“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak layak bagiKu. Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya!”
Ayat ini mengajarkan bahwa menjadi pengikut Kristus harus berani menyangkal diri sepenuhnya, di mana ketaatan pada Tuhan lebih utama daripada kenyamanan duniawi, bahkan nyawa sendiri. Semangat dan sikap hidup mesti lebih fokus kepada yang lain: Tuhan, sesama dan lingkungan alam ciptaan lainnya daripada diri sendiri. “Hidup mati” untuk “yang lain” bukan untuk urus diri sendiri. Memikul salib! Berkorban untuk yang lain.
Berat memang. Tapi itu tuntutan Tuhan sendiri. Berani “kehilangan nyawa” demi yang lain. Berani berkorban; korban segalanya. Bahkan korban nyawa. Itulah harga yang harus dibayar dalam mengikuti Yesus, menjadi murid Yesus. Hasilnya memperoleh keselamatan; hidup berkelimpahan; Rehmat dan berkat berkelimpahan (tidak kehilangan nyawa).
Kita diajak untuk fokus kepada yang lain! Beri yang terbaik dan terindah kepada yang lain! Berkorban untuk yang lain! Memikul salib dengan gembira hati!
Semoga Allah yang Mahakuasa (+) memberkati kita sekalian yang lebih fokus kepada “yang lain”: Tuhan, sesama, dan lingkungan alam ciptaan lainnya dalam hidup sehari-hari. Amin.


