Bernaung di Bawah KWI, Ini Kerja Nyata Caritas Indonesia

JAKARTA,KITAKATOLIK.COM–Caritas Indonesia atau sering disebut Karina adalah lembaga kemanusiaan yang bernaung di bawah Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Mengusung motto “Belas Kasih Kami”, Karina berdiri pada 17 Mei 2006 sebagai badan kemanusiaan Gereja Katolik Indonesia.

Pada 23 Oktober 2024 yang lalu, Karinia mendapat kunjungan dari Sekretaris Jenderal Caritas Internationalis, Alistair Dutton mengunjungi Indonesia, khususnya Caritas Indonesia.  Alistair dijemput langsung oleh  Ketua Badan Pengurus Yayasan Karina (Caritas Indonesia) Mgr. Aloysius Sudarso SCJ di  Kantor Caritas Indonesia, Jakarta Timur, 23 Oktober 2024.

Pada kesempatan itu, dipaparkan  panorama karya kemanusiaan nyata dari Caritas Indonesia. Apa saja itu? Direktur Caritas Indonesia, Romo Fredy Rante Taruk menyampaikan panorama karya Caritas Indonesia di seluruh jaringannya. Di antaranya, pengentasan gizi buruk dan stunting di Keuskupan Weetebula.

“Sejak tahun lalu, Caritas Indonesia menginisiasi program pemberian makanan bergizi untuk ibu dan anak di Sumba Barat Daya. Program ini menyasar anak-anak gizi buruk,” ujarnya sembari menambahkan, program di Weetebula ini berjalan dengan dukungan dari pelbagai pihak dan sumbangan dari umat yang bermurah hati dari seluruh Indonesia. Juga berkat kerjasama dengan  pemerintah dan fasilitas-fasilitas kesehatan di Sumba Barat Daya.

Romo Fredy juga memberi penjelasan tentang program Penemanan Keuskupan yang sudah dijalankan Caritas Indonesia sejak tahun 2022. Program ini bertujuan  semakin menguatkan Caritas Keuskupan yang ada di 38 keuskupan di Indonesia.

BACA JUGA: Kunjung Indonesia, Sekjen Lembaga Kemanusiaan Katolik Terbesar Ini Ingin Melihat Karya Nyata Caritas Indonesia kitakatolik.com/kunjung-indonesi…aritas-indonesia/

Manajer Program Penemanan Keuskupan Caritas Indonesia, Yohanes Baskoro menjelaskan, tujuan utama  program ini adalah untuk meningkatkan kapasitas dari setiap Caritas Keuskupan di seluruh Indonesia. Berjalan sejak dua tahun lalu, Program Penemanan Keuskupan berhasil meningkatkan kemampuan manajerial Caritas Keuskupan yang terlibat.

Baskoro mencontohkan, sejak dimulainya program ini, Caritas Sibolga berjalan semakin terarah. Salah satu yang menjadi fokus dalam program ini adalah penyusunan strategic plan yang semakin memberi arah dalam berjalannya Caritas.

SOP tanggap darurat

Untuk bidang emergency Response, Rudi Raka membagikan keberhasilan Caritas Indonesia dalam membangun SOP Tanggap Darurat di 17 keuskupan di Indonesia. Dengan adanya SOP ini, maka keuskupan memiliki kesiapsiagaan ketika berhadapan dengan potensi kebencanaan di wilayah pastoral keuskupan.

SOP merupakan rangkaian kesiapsiagaan, termasuk di dalamnya pembagian tugas yang melibatkan setiap pemangku kepentingan di keuskupan, yang disiapkan untuk menghadapi potensi bencana. Dengan adanya SOP ini, ketika bencana terjadi, maka setiap pemangku kepentingan ini bisa langsung diaktivasi sesuai dengan pembagian tugasnya, dengan demikian, respon kebencanaan akan dapat berjalan dengan baik.

Direktur Caritas Indonesia, Romo Fredy Rante Taruk

Untuk bidang Integral Ekologi, Ozagma Lorenzo membagikan karya Caritas Indonesia pada bidang pendampingan masyarakat suku asli bagi masyarakat Dayak Meratus di Kalimantan Selatan. Karya ini menunjukkan perhatian Caritas Indonesia pada suku-suku asli selaras dengan pesan Paus dalam Laudato Si’.

Nutrisi dan kesehatan

Manajer Program Caritas Indonesia Donatus Akur membagikan karya Caritas Indonesia untuk bidang Nutrisi dan Kesehatan.

Dalam program di Keuskupan Weetebula, Caritas Indonesia membantu dalam penanganan stunting dan gizi buruk di wilayah Sumba Barat Daya. Saat ini ada 373 anak, 373 ibu, dan 6 ibu hamil yang dilayani Caritas Indonesia melalui pemberian makanan bergizi. Usaha ini dijalankan Caritas Indonesia dengan dukungan dari sumbangan dari umat dan masyarakat dari seluruh Indonesia. Program ini juga dijalankan dalam kolaborasi dan kerja sama dengan pemerintah dan lembaga kesehatan sekitar. Untuk mendukung program ini, Doni juga menyampaikan program pembangunan sumber air bersih di wilayah Sumba Barat Daya.

Pendampingan korban TPPO

Caritas Indonesia juga menjalankan program pendampingan pekerja migran dan korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Doni menyampaikan, dalam program ini Caritas Indonesia bekerja sama dengan pelbagai pihak, termasuk dengan Kementerian Hukum dan HAM, dalam upaya keras melakukan pendampingan dan advokasi, utamanya untuk para korban TPPO.

Terkait bidang Safeguarding, Caritas Indonesia tahun ini juga memulai program ini yang melibatkan seluruh jaringan Caritas Indonesia. Program ini dijalankan dengan tujuan memastikan penerapan safeguarding di seluruh jaringan Caritas Indonesia.

Apresiasi 

 Sekretaris Jenderal Caritas Internationalis, Alistair Dutton mengapresiasi segala karya kemanusiaan konkrit yang sudah dilakukan oleh Karina. Ia juga  sangat mengapresiasi kesiapan Caritas Indonesia dalam menyiapkan keuskupan dalam kesiapsiagaan bencana. Ini adalah langkah sangat maju dalam membangun ketangguhan di level keuskupan.

Dalam perjumpaan dengan staf Caritas Indonesia, Alistair menyampaikan, migrasi merupakan isu yang menjadi perhatian besar di dunia. Ia mengingatkan, kaitan antara perubahan iklim dengan arus migrasi, yang harus mulai menjadi perhatian dalam karya Caritas.

“Caritas bekerja lebih banyak dalam tema perubahan iklim, hal ini termasuk di dalamnya yang perlu diperhatikan,” ujarnya.

Alistair menutup apresiasinya kepada Caritas Indonesia dengan mengingat awal perjalanan Yesus yang dimulai dengan masa di padang gurun. Setelah dari masa di padang gurun ini, Yesus datang membawa Kabar Gembira bagi masyarakat.  Ini adalah ajakan bahwa Caritas Indonesia hendaknya menjadi Kabar Gembira bagi orang miskin.

“Saya telah melihat setiap karya Caritas Indonesia, inilah yang dibutuhkan masyarakat. Karya ini berusaha membangun ketangguhan di tengah masyarakat. Karya ini juga telah berhasil melihat mereka yang miskin, dan Caritas Indonesia telah berusaha membantu mereka, berpihak dan mendampingi mereka untuk memperoleh hidup yang lebih stabil. Karya Caritas Indonesia juga sudah berusaha ada untuk mendampingi para korban trafficking (TPPO), mendampingi mereka dan memastikan bahwa mereka memperoleh kehidupan yang lebih bermartabat,” ujar Alistair.  (Caritas Indonesia).

 

One Comment on “Bernaung di Bawah KWI, Ini Kerja Nyata Caritas Indonesia”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *