TANGERANG,KITAKATOLIK.COM—Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Cabang Helena, diminta tak hanya tenggelam dalam urusan liturgis dan internal gereja, tapi juga melakukan aktivitas sosial positif yang mendukung upaya menciptakan kebaikan umum atau kesejahteraan bersama dalam masyarakat.
“Syukur bahwa WKRI telah menyumbangkan yang terbaik bagi masyarakat yang memang menjadi sasaran pelayanan WKRI. Sebab WKRI sebenarnya tidak dikhususnya untuk pelayanan liturgi gereja, tapi lebih keluar dari gereja, menjumpai masyarakat. Tawaran seperti itu harus terus digelorakan dalam kegiatan WKRI,” kata Pastor Lukas Sulaeman OSC, Kepala Paroki Curug, Santa Helena pada Minggu (8/10/2023).

Pastor Lukas yang juga merupakan pastor pendamping ormas katolik ini menyebut beberapa hal yang sudah dan sebaiknya dilakukan WKRI. Sebut misalnya keterlibatan dalam kegiatan di pos pelayanan terpadu (Posyandu), pelayanan penjara, taman bhineka untuk menciptakan keasrian lingkungan dan kerukunan antar warga.
Salah satu bentuk nyatanya adalah hadirnya Kampung Bhineka WKRI di RW 13 Bojong Nangka yang melibatkan Karang Taruna, Majlis Taklim, Karang Taruna, WKRI dan beberapa komponen masyarakat lainnya.
Perkuat di tingkat wilayah
Seraya mengapresiasi pencapaian WKRI Cabang Santa Helena, Pastor Lukas juga menghimbau agar kaderisasi terus dilakukan, terutama di tingkat wilayah yang merupakan ujung tombak keterlibatan WKRI dalam masyarakat.
“Saya berharap kaderisasi bisa terus berjalan. Juga terus bisa merekrut anggota-anggota baru. Terutama di tingkat wilayah-wilayah agar di tingkat yang paling dekat dengat masyarakat itu, hadir WKRI yang tangguh dan menjadi perpanjangan tangan gereja yang kuat,” katanya.

Baik dari aspek kuantitatif maupun kualitatif, kata pastor Lukas, potensi WKRI di Paroki Santa Helena, sangat bagus. Menurut statistik paroki, ada sekian banyak ibu usia muda yang bisa direkrut untuk ambil bagian dalam seluruh aktivitas WKRI.
Dalam kesempatan yang sama, Teresia Triwuryani selaku Ketua WKRI Cabang Santa Helena mengapresiasi daya tahan WKRI dalam menghadapi pelbagai tantangan, terutama terkait pandemi COVID-19. Ia juga mengapresiasi dukungan anggota keluarga yang telah mengijinkan para ibu (mama) aktif dalam seluruh aktivitas WKRI.
Lebih tua dari Paroki
Bila ditelisik, WKRI Santa Helena ternyata tiga tahun lebih tua dari Paroki Curug yang tahun ini baru berusia 17 tahun. Kok bisa?
Menurut Beatrix Theresiana Masbrata, WKRI Helena lahir pada 2 Oktober 2003, saat Helena masih berstatus stasi di bawah Paroki Santa Monika, Bumi Serpong Damai (BSD).
“Waktu itu kita mau bentuk WKRI ranting Santa Helena yang berinduk pada WKRI Cabang Santa Monika. Tapi ketua WKRI Cabang Monika minta kita tidak usah jadi ranting, tapi cabang, mengingat jarak antara Karawaci dan BSD yang terlalu jauh. Mereka ajukan ke DPD WKRI Jakarta dan disetujui. Jadi per tanggal 2 November 2003, kita dilantik,” cerita Beatrix yang menjadi ketua pertama WKRI Cabang Santa Helena ini.

Seirama perkembangan umat, jumlah anggota WKRI terus bertambah. Sekretaris WKRI Cabang Santa Helena, Ratih Iswardani melaporkan, jumlah anggota sudah mencapai 314 orang. Dan kepemimpinan berganti tiap tiga tahun dan bisa diperpanjang selama dua periode.
Setelah Beatrix Theresiana Masbrata (2003-2006, lanjut 2006-2009), kepemimpinan dipegang Wanda Dwinita Patimahu (2009-2012, lanjut 2012-2015), Maria Jangky Nova Kadarrini (2015-2018, lanjut 2018-2022) dan Teresia Triwuryani (2022-2025). (Paul MG).


