Pada suatu kali Yesus berada dalam sebuah kota. Di situ ada seorang yang penuh kusta. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.”
Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya. Yesus melarang orang itu memberitahukannya kepada siapapun juga dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan seperti yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka.”
Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa. (Lukas 5: 12-16).

Oleh: Romo John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng.
“Aku mau, jadilah engkau tahir!” Itulah jawaban Yesus kepada orang kusta dalam Injil hari ini. Tidak ada kata “tidak mau” dalam kamus hidup Yesus, hanya ada kata mau. Dan ini bisa terjadi kalau kita mau datang dan minta dengan rendah hati, penuh iman. Pasrahkan diri, dan tidak memaksa.
Jadi perlu unsur keberanian dan sikap proaktif atau inisiatif intuk datang dan meminta. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku!” kata si kusta kepada Yesus. Dan Yesus segera “mengulurkan tanganNya, menjamah orang itu (kita yang kusta atau berdosa) dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir! Dan seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya”. (Lukas 5:12-13).
Kita harus berani dan proaktif, berjuang untuk mendatangi Yesus, mendekatkan diri kepada Yesus. Kita juga harus percaya sungguh-sungguh (bukan hanya di bibir atau dalam pikiran) bahwa Yesus bisa menyembuhkan atau menebus dosa kita. Dengan memiliki sikap hati dan hidup seperti begini, Yesus pasti tergerak hatiNya untuk “mengulurkan tanganNya untuk memberkati dan menjamah dan ‘menyembuhkan/menebus’ kita “saat ini dan di sini, now and here, nunc et hic“!
Kita adalah juga orang kusta jaman now. Kusta karena sakit-penyakit, kusta pikiran, perkataan, perbuatan dan kelalaian, kusta karena kesulitan dan persoalan hidup yang membebankan dalam pelbagai bentuk. Sadar akan ini, datanglah kepada Tuhan. Dekatkan diri kepada Tuhan! Curhat dengan Tuhan, tapi ingat, biarkan kehendak Tuhan yang terjadi/terlaksana!
Jangan paksakan kehendak kita! Akhir kata, dalam curhat dengan Tuhan, “Jika Engkau mau ya Tuhan, … jadilah kehendakMu Tuhan, dan sebagainya.” Dan ingat “Tuhan selalu mau, dan mau, dan mau, tapi sesuai dengan kehendakNya, bukan sesuai kehendak kita!
Semoga Allah Tritunggal Mahakudus selalu mengulurkan tanganNya, menjamah dan (+) memberkati kita semua yang berani dan rajin datang curhat kepadaNya. Amin.


