BOGOR,KITAKATOLIK.COM–Di lereng Gunung Salak yang sejuk, tepatnya di Wisma Cengkih Cipelang, Bogor, sebuah peristiwa iman yang tak lazim namun menyentuh kalbu baru saja berlangsung. Di sana, keluarga besar Hutasoit-Rumantir bersama Kelompok Doa SABDA berkumpul bukan untuk kemewahan duniawi, melainkan untuk sebuah rekoleksi spiritual yang mendalam. Mengusung tema Kasih yang Mempersatukan, suasana hening pegunungan seolah menjadi saksi bisu bagaimana kerendahan hati mampu menyatukan berbagai jiwa dalam satu frekuensi iman yang murni.
Suster Sisilia Rahawarin, OSAD, yang hadir memberikan inspirasi, memberikan kesaksian yang sangat mendalam mengenai esensi acara ini. Beliau menekankan bahwa dalam budaya modern, momentum perayaan ulang tahun atau peringatan penting biasanya identik dengan pesta pora yang meriah dan penuh kebisingan. Namun, keluarga Hutasoit-Rumantir justru memilih jalan sepi yang suci melalui sebuah rekoleksi, sebuah langkah iman yang dinilai Suster Sisilia sebagai peristiwa yang sangat langka dan berharga.
Menurut Suster Sisilia, keputusan untuk merayakan tiga peristiwa penting sekaligus (HUT Ibu Maya Rumantir ke 62, HUT Bapak Takala Hutasoit ke 63 dan HUT Perkawinan ke 22) dengan cara rekoleksi dan berdoa bersama adalah sebuah langkah iman yang menyejukkan. Keindahan ini tidak hanya dirasakan oleh mereka yang hadir, tetapi juga menjadi sebuah teladan nyata bagi keluarga-keluarga lain di Indonesia. Di tengah dunia yang sibuk mengejar pengakuan lahiriah, keluarga ini justru kembali ke akar kekuatan mereka, yaitu persekutuan batin dengan Sang Pencipta di tengah keheningan alam.

Senator DR. Maya Rumantir, MA., PHD., sebagai tuan rumah, menyampaikan kesaksian yang penuh rasa syukur dan keheranan atas rencana Tuhan yang ajaib. Beliau mengakui bahwa semula tidak menyangka rangkaian acara yang diberi judul April Penuh Cinta oleh para stafnya akan mewujud dalam bentuk rekoleksi. Maya menekankan bahwa ketika manusia berserah sepenuhnya kepada kehendak Allah, maka hal-hal indah yang tak terpikirkan sebelumnya akan disediakan secara sempurna oleh Sang Pencipta.
Merasa cukup
Dalam sesi materi, Pastor Andreas Andy Sainyakit, Pr., mengajak peserta untuk menyelami makna mendalam dari sebuah kata sederhana namun sulit dipraktikkan, yakni cukup. Beliau mengeksplorasi gagasan bahwa kebahagiaan sejati bermula dari kemampuan hati untuk merasa cukup atas segala berkat yang diterima tanpa terus merasa kekurangan. Pastor Andy, yang pernah menjadi Pastor Paroki Desa Warengbungan Minahasa ini juga menegaskan bahwa kesunyian dalam doa bukanlah sebuah kesepian, melainkan momen intim di mana suara Tuhan terdengar paling jelas dan tenang.
Lebih lanjut, Pastor Andy menjelaskan bahwa dalam kesunyian tersebut, manusia justru menemukan jati dirinya yang paling jujur di hadapan Allah yang Maha Pengasih. Kesunyian di Cipelang menjadi sarana bagi keluarga besar ini untuk menanggalkan topeng-topeng duniawi dan mengenali wajah Tuhan dalam diri sesama. Dengan merasa cukup, kasih yang mempersatukan tidak lagi menjadi beban, melainkan aliran anugerah yang terus mengalir tanpa menuntut imbalan apa pun dari anggota keluarga yang lainnya.
Sakralitas perkawinan
Refleksi kemudian dilanjutkan oleh Pastor Ignasius Igo Sarkol, MSC., yang menyoroti sakralitas dari sebuah ikatan perkawinan dalam kacamata iman Kristiani. Beliau menekankan bahwa perkawinan bukanlah sekadar kontrak sosial atau perjumpaan emosional antara dua insan manusia yang saling mencintai secara manusiawi saja. Lebih dari itu, perkawinan adalah sebuah panggilan suci yang melibatkan Tuhan sebagai saksi dan pengikat utama yang tidak boleh dipisahkan oleh kekuatan ego pribadi manusia.

Pastor Igo mengeksplorasi bahwa setiap tantangan dalam rumah tangga merupakan bagian dari proses pemurnian kasih yang harus dihadapi dengan kesadaran akan panggilan tersebut. Kasih yang mempersatukan dalam konteks ini berarti melihat pasangan sebagai rekan seperjalanan menuju kekudusan yang telah dipilihkan oleh Tuhan. Dengan memahami perkawinan sebagai misi suci, maka setiap dinamika keluarga besar Hutasoit-Rumantir dan Kelompok Doa SABDA dapat dimaknai sebagai sebuah bentuk ibadah yang hidup.
Setia sebagai puncak kasih
Sementara itu, Pastor Yohanes Kota Sando, Pr., memperkaya refleksi dengan memberikan satu kata kunci yang menjadi fondasi utama dalam merawat relasi, yaitu setia. Beliau memaparkan bahwa kesetiaan adalah bentuk tertinggi dari kasih yang tidak lekang oleh waktu maupun perubahan situasi hidup yang dinamis. Merawat perkawinan dan persahabatan membutuhkan ketekunan untuk tetap berdiri di samping satu sama lain, baik dalam tawa riang maupun dalam tetesan air mata kesedihan yang mendalam.

Pastor John mengeksplorasi bahwa kesetiaan bukan sekadar tidak berkhianat, melainkan kemauan untuk terus memperbarui komitmen setiap hari dengan penuh kesadaran dan ketulusan. Dalam Kelompok Doa SABDA (Persahabatan dan Perdamaian), nilai kesetiaan ini menjadi perekat yang memastikan bahwa kedamaian akan selalu ada selama ada hati yang tulus. Kasih yang mempersatukan hanya akan menjadi nyata jika setiap pribadi mau memupuk benih kesetiaan di dalam tanah hati yang subur dan bersih.
Kehadiran Ibu Agustina Margaretha sebagai penghubung para imam memastikan bahwa seluruh rangkaian rekoleksi ini berjalan dalam harmoni yang sangat teratur dan penuh makna. Peran-peran kecil namun vital seperti inilah yang menunjukkan bahwa kerja sama dalam kasih selalu membuahkan hasil yang indah bagi kebaikan bersama. April Penuh Cinta benar-benar menjadi nyata melalui sentuhan-sentuhan spiritual yang diberikan oleh para pembawa materi dan kehadiran seluruh peserta yang penuh dengan rasa antusias.
Akhirnya, rekoleksi di Wisma Cengkih Cipelang ini meninggalkan jejak spiritual yang mendalam bagi keluarga Hutasoit-Rumantir dan seluruh Kelompok Doa SABDA. Mereka pulang tidak hanya membawa kenangan manis akan keindahan alam Bogor, tetapi juga membawa api kasih yang baru untuk mempersatukan lingkungan mereka. Peristiwa ini menjadi bukti bahwa syukur yang paling tinggi adalah ketika kita mampu diam sejenak dan mengakui bahwa Tuhanlah sang sutradara utama dalam kehidupan manusia. (Recky Runtuwene).


