“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.
Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga. Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.
Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Matius 18: 15-20).

Oleh: Romo John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng.
TIGA murid datang kepada seorang Rabbi (guru) untuk meminta nasihat “bagaimana caranya mengusir kekuatan kegelapan”. Rabbi menyuruh membuat sapu dan menyapu kegelapan, tetapi hasilnya sia-sia, tidak dapat disapu. Kemudian menyuruh mereka mengambil tongkat dan memukul kekuatan kegelapan, tetapi hasilnya tetap sia-sia, tidak dapat dipukul. Akhirnya dia berkata kepada mereka: “Anak-anakku, sebaiknya kamu menantang kekuatan kegelapan itu dengan ‘menyalakan lilin’”. Alhasil, ruangan menjadi terang benderang. Ternyata kekuatan kegelapan hanya bisa ditantang dan dikalahkan dengan terang.
Dalam Injil hari ini, Yesus berbicara tentang prosedur yang harus ditempuh untuk memperbaiki relasi atau hubungan yang rusak/terganggu (“kekuatan kegelapan”). Bagaimana memperbaiki hubungan dengan orang yang berbuat dosa dan kesalahan terhadap kita? Tidak menghukumnya! Bicara empat mata, dari hati ke hati. Berdialog, melakukan komunikasi agar tidak salah paham. Memberi koreksi, klarifikasi dan pencerahan. Membangun komunikasi yang baik dengan dia. “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata!” (Matius 18:15).
Yesus mengajar hal itu kepada kita dan melakukan hal itu “saat ini – di sini”. Apapun dosa, kesalahan yang dilakukan seseorang; apapun prosedur yang diberikan untuk memperbaikinya, cara terbaik adalah memberikan contoh dan teladan yang baik, yaitu menjadi dan memberi terang bagi orang lain yang “gelap hidup dan perbuatannya”. Memperlihatkan “terang” kepada orang lain. Memperlihatkan berbagai kebaikan kepada orang lain, termasuk kesediaan untuk “mengampuni orang yang bersalah” kepada kita (ingat Doa Bapa Kami: Ampunilah kesalahan kami, seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami”).
Dengan itu, kita telah menolong diri sendiri untuk hidup aman, damai, penuh sukacita dan kebahagian sekaligus menolong orang yang bersalah kepada kita untuk hidup aman dan tenang.
Selamat memberi teladan dan contoh yang baik. Selamat memberi dan berbagi berbagai kebaikan. Selamat menjadi terang. Selamat memberi Pencerahan.
Semoga Allah Tritunggal Mahakudus (+) memberkati kita yang telah memberi “terang”, contoh dan teladan yang baik dan benar bagi orang lain dalam hidup ini. Amin.


