Renungan Minggu, 23 Juli 2023: Dalam dan Bersama Tuhan Yesus, Kita Kuat Perkasa, Tak Bisa Dilawan! (Matius 13: 24-30)

Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya.  Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu.  

Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu?  Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu?   Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu.  Biarkanlah keduanya tumbuh bersama  sampai waktu menuai.

Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” (Matius 13: 24-30). 

Oleh: Romo John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng.

ADA dua hal yang perlu kita tarik dari perumpamaan Yesus dalam Injil hari ini  tentang Kerajaan Allah (suatu kerajaan, suasana  hati atau hidup di mana Allah sendiri yang  menjadi raja di dalamnya.

Pertama, Tuhan Allah yang kita  imani pada dasarnya selalu menanamkan kebaikan  dalam hati dan hidup kita sejak dilahirkan,  diciptakan. “Hal Kerajaan Allah itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik (gandum, kebaikan)  di ladangnya!” (Matius  13:24).

Allah yang sama menghendaki yang sama agar manusia (kita)  yang diciptakan itu nanti kembali  kepadaNya untuk  menikmati lagi kebaikan itu (keselamatan,  kedamaian,  sukacita,  kegembiraan,  kebahagiaan). Dan untuk itulah Allah Bapa mengutus PuteraNya yang tunggal agar semua orang (kita)  yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal (hidup yang selalu dekat,  bersama,  dan bersatu,  akrab dengan  Tuhan).

Maka hidup kekal bukan tunggu setelah kematian,  melainkan juga dialami dan dirasakan selama hidup di dunia ini. Inilah yang meneguhkan dan menguatkan kita dalam perziarahan hidup di dunia ini yang juga penuh dengan lalang  (tantangan,  godaan, roh jahat/kejahatan, keinginan yang tidak teratur, kesulitan baik dari dalam diri maupun dan terutama dari luar diri).

Harapannya untuk  mencapai dan mengalami Kerajaan Allah dan  kebaikan Allah adalah tetap teguh dan kuat serta mantap dalam  menjalani hidup ini, Tetap semangat untuk  hidup apapun keadaan!  Tetaplah menjadi benih yang baik.  Jadi gandum yang baik.  Jadi orang baik dan menghasilkan berbagai kebaikan.

Kedua, kita  disadarkan pula bahwa betapa besar dan banyak tantangan atau godaan dan kejahatan (“musuh, lalang,  rumput liar”) dalam dan mengitari Kerajaan Allah itu.  “Tetapi pada waktu semua orang tidur,  datanglah musuhnya menaburkan benih lalang (rumput liar) di antara gandum itu,  lalu pergi!” (Matius 13:25).

Kejahatan,  kuasa jahat,  keinginan tidak teratur (musuh,  rumput liar,  lalang)  berusaha untuk  memengaruhi dan mengganggu supaya kebaikan dan kebenaran Allah yang ditaburkan dalam hati dan hidup kita itu tidak tumbuh bahkan mati.  Musuh atau kekuatan ini sungguh ada,  jangan dipandang dengan sebelah mata!  Harus dengan dua belah mata.  Karena itu dibutuhkan kekuatan ekstra dari Tuhan Allah sendiri. Minta Tuhan Allah sendiri yang “lawan”. Pasti musuh hancur.  Jangan  andalkan kekuatan sendiri!

Yakin dan sadarilah,  dalam dan  bersama Tuhan Yesus, kita  kuat perkasa, tidak bisa dilawan.  Roh jahat,  kekuatan jahat, kejahatan sekuat apapun akan rubuh jika dilawan dalam dan bersama Tuhan Allah sendiri.

Semoga Allah Tritunggal Mahakudus(+) memberkati kita  yang tetap menjadi benih yang baik atau gandum bersama Tuhan Allah  di tengah hidup  yang penuh dengan lalang atau “rumput liar”. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *