Renungan Minggu Palem, 10 April 2022: Antarlah Yesus Sang Raja Damai Memasuki Altar Hati dan Hidup Kita dengan Sorak-sorai!

Dua hari lagi Hari Raya Paskah dan Hari Raya Roti Tidak Beragi akan mulai. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mencari jalan untuk menangkap dan membunuh Yesus dengan tipu muslihat, dan mereka berkata, “Jangan pada waktu perayaan, supaya jangan timbul keributan di antara rakyat.”

Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta, dan sedang duduk makan, datanglah seorang perempuan membawa suatu buli-buli pualam berisi minyak narwastu murni yang mahal harganya. Setelah memecahkan leher buli-buli itu, perempuan tadi mencurahkan minyak itu ke atas kepala Yesus.

Ada orang yang menjadi gusar dan berkata seorang kepada yang lain, “Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini? Sebab minyak ini dapat dijual tiga ratus dinar lebih, dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin.”

Lalu mereka memarahi perempuan itu. Tetapi Yesus berkata, “Biarkanlah dia! Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, dan kamu dapat menolong mereka kapan saja kamu menghendakinya, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu.  Ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya. Tubuh-Ku telah diminyakinya sebagai persiapan untuk penguburan-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya, di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia.”

Lalu pergilah Yudas Iskariot, salah seorang dari kedua belas murid Yesus, kepada imam-imam kepala dengan maksud untuk menyerahkan Yesus kepada mereka. Para imam sangat gembira waktu mendengarnya, dan mereka berjanji akan memberikan uang kepada Yudas. Maka Yudas mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.

Pada hari pertama dari Hari Raya Roti Tidak Beragi, pada waktu orang menyembelih domba Paskah, murid-murid berkata kepada Yesus, “Ke tempat mana Engkau kehendaki kami pergi untuk mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?”

Lalu Yesus menyuruh dua orang murid-Nya dengan pesan, “Pergilah ke kota! Di sana kamu akan bertemu dengan seorang yang membawa kendi berisi air.  Ikutilah dia, dan katakanlah kepada pemilik rumah yang dimasukinya: Guru berpesan: Di manakah ruangan yang disediakan bagi-Ku untuk makan Paskah bersama dengan murid-murid-Ku?  Lalu orang itu akan menunjukkan kepadamu sebuah ruangan atas yang besar, yang sudah lengkap dan tersedia. Di situlah kamu harus mempersiapkan perjamuan Paskah untuk kita!”

Maka berangkatlah kedua murid itu. Setibanya di kota, didapati mereka semua seperti yang dikatakan Yesus kepada mereka. Lalu mereka mempersiapkan Paskah. Setelah hari malam, datanglah Yesus bersama-sama dengan kedua belas murid itu. Ketika mereka duduk di situ dan sedang makan, Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku, yaitu dia yang makan dengan Aku.”

Maka sedihlah hati mereka, dan seorang demi seorang berkata kepada Yesus, “Bukan aku, ya Tuhan?” Yesus menjawab, “Orang itu ialah salah seorang dari kamu yang dua belas ini, yang mencelupkan roti ke dalam satu pinggan dengan Aku. Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang tertulis tentang Dia. Akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan.”

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecah roti itu lalu memberikannya kepada para murid seraya berkata, “Ambillah, inilah Tubuh-Ku.”

Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur, lalu memberikannya kepada para murid, dan mereka semua minum dari cawan itu. Dan Yesus berkata kepada mereka, “Inilah darah-Ku, darah perjanjian yang ditumpahkan bagi banyak orang.Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya Aku tidak lagi akan minum hasil pokok anggur sampai pada hari Aku meminumnya yang baru, yaitu dalam Kerajaan Allah.”

Sesudah menyanyikan nyanyian pujian, pergilah mereka ke Bukit Zaitun. Dalam perjalanan ke Bukit Zaitun Yesus berkata kepada mereka, “Kamu semua akan tergoncang imanmu. Sebab ada tertulis: Aku akan memukul gembala, dan domba-dombanya akan tercerai-berai. Akan tetapi sesudah bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea.”

Kata Petrus kepada Yesus, “Biarpun mereka semua tergoncang imannya, aku tidak!” Lalu kata Yesus kepadanya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada hari ini, malam ini juga, sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.”

Tetapi dengan lebih bersungguh-sungguh Petrus berkata, “Sekalipun aku harus mati bersama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.” Semua murid yang lain pun berkata demikian juga. Lalu sampailah Yesus dan murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Kata Yesus kepada murid-murid-Nya, “Duduklah di sini sementara Aku berdoa.”

(…. dan seterusnya yang menjadi Kisah Sengsara Yesus …. Markus 14: 1-15,47)

Oleh: John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng

PERAYAAN Minggu Palem adalah perayaan atau Liturgi yang paling dekat dengan realita hidup kita.  Dibuka dengan Pemberkatan Daun Palma dan Perarakan Yesus masuk kota Yerusalem.

Suasana awal penuh gegap gempita,  sorak sorai,  dan puji-pujian (mengacung-acungkan daun palma,  merentangkan pakaian di jalan,  mengelu-elukan Yesus,  sang Raja keturunan Daud, meneriakkan: “Hosanna  Raja Daud”.

Memasuki upacara Sabda,  suasana berubah mencekam,  terdengar teriakan kebencian dan caci maki terhadap Yesus yang sama dan oleh orang yang sama. Kemudian disambut dengan  Perjamuan.

Warna campuran antara dipuji dan dicela,  suka dan duka,  sukses dan gagal,  rahmat dan dosa, sehat dan sakit,  dan lain-lain  seperti itu adalah warna kehidupan  kita sehari-hari.  Pada hari ini (Minggu Palem) kita berteriak “Hosanna Raja Daud”, mungkin besok pada  hari Jumad Agung, kita berubah dan berteriak kepada  Yesus “Salibkan Dia”!

Hari ini penuh sukacita,  mungkin besok menangis penuh dukacita.  Hari ini di sini,  di meja makan penuh gelak tawa,  tapi besok di tempat tidur  sedih karena dikhianati. Itulah perayasn Minggu Palma.  “Berubah-ubah, bergantian antara Hosanna dan Salibkan Dia”, antara suka dan duka.

Dalam suasana  hidup yg serba berubah-ubah  itu, memiliki sikap dan semangat yang kokoh kuat yaitu semangat seorang hamba Tuhan (Raja Damai, Raja Cinta Kasih, Raja melayani) yang taat kepada Allah Bapa dan kehendakNya, walaupun  mengalami hiruk pikuknya kehidupan ini di sini dan saat ini.

Kekuatan seorang Hamba Tuhan  adalah doa dan berdoa: “Ya BapaKu,  jikalau Engkau mau,  ambillah cawan ini (penderitaan, sakit, penyakit dan berbagai kesulitan dan persoalan hidup) daripadaKu,  tetapi bukan kehendakKu, melainkan kehendakMulah yang terjadi” (Luk. 22:42).

Pada Hari Minggu Palma ini kita  diajak: Antarlah Yesus Sang Raja Damai dan Raja Cintakasih, Raja melayani  memasuki “Yerusalem/altar” rumah kita, altar keluarga kita, altar hati dan hidup kita dengan sorak sorai! Milikilah altar hati seorang Hamba Tuhan, altar hati yang penuh damai dan cintakasih!

Setia mendengarkan suara dan kehendak Tuhan; Rela menderita,  berkorban demi kemuliaan Tuhan dan orang lain. Selamat merayakan Minggu Palem!

Semoga Allah Tritunggal Mahakudus (+) memberkati kita sekalian yang telah siapkan “altar” di rumah,  keluarga,  hati kita masing-masing  untuk Sang Raja Damai, Raja Cintakasih dan Raja Melayani. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *