Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya.
Kata-Nya kepada mereka: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.
Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapapun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu.
Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah.
Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu.” (Lukas 10: 1-9).

Oleh: Romo John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng.
INJIL hari ini mengisahkan tentang misi atau perutusan para murid Kristus (70 murid). Kata Tuhan Yesus: “Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala!” (Lukas 10: 3). Diutus untuk mewartakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Untuk mewartakan kebaikan-kebaikan Allah kepada kita. Membawa damaii Sejahtera kepada kita. “Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini!” (Lukas 10:5).
Ada beberapa sikap dasar yang harus dimiliki para utusan. Antara lain kerelaan berkorban (korban segalanya, korban keinginan atau kehendak diri sendiri) untuk fokus pada rencana dan kehendak Allah. Rendah hati dan lemah lembut (seolah-olah lemah seperti anak domba/tanpa tenaga) untuk menaklukkan “serigala-serigala buas” yang berkeliaran (tidak rendah hati, mengikuti kehendak sendiri) dalam hidup di atas panggung dunia ini.
Itulah ajakan Tuhan Yesus untuk kita agar menjadi gembala yang baik dan menjadi domba yang baik di tengah-tengah serigala yang ganas dan buas agar mereka menjadi lunak, jinak dan bersahabat dengan kita dengan jalan lemah lembut, rendah hati dan penuh cintakasih.
Selamat menjadi gembala dan domba yang baik, lemah lembut dan rendah hati dan penuh cintakasih di tengah-tengah “serigala hidup” yang keras dan ganas ini.
Semoga dengan bantuan doa Santo Timotius dan Titus, Allah Tritunggal Mahakudus (+) memberkati kita sekalian yang telah rela berkorban menjadi gembala dan domba yang baik di atas panggung dunia ini. Amin.


