Pesan dan Harapan dari Klender: Senator Maya Rumantir dan Misi Pemulihan Keluarga Menuju Indonesia Emas

JAKARTA,KITAKATOLIK.COM–Sabtu sore, 2 Mei 2026, gerimis tipis membasuh pelataran Pusat Pastoral Keuskupan Agung Jakarta Santa Maria Dipamarga (Puspas Samadi), Klender. Suasana syahdu tersebut tidak menyurutkan semangat ratusan umat yang berkumpul dalam kehangatan persaudaraan. Di tengah rintik hujan Jakarta Timur, sebuah misi mulia sedang dirajut demi tegaknya Gedung Karya Pastoral Paroki Ibu Teresa Cikarang. Kehadiran Senator Maya Rumantir di tengah kerumunan memberikan energi positif bagi seluruh panitia dan umat yang hadir.

Acara penggalangan dana ini terasa sangat istimewa karena sentuhan budaya yang begitu kental. Gagasan kreatif dari Theodosius Hengky Sigarlaki berhasil menyatukan umat asal Kalimantan dan Sulawesi dalam satu visi kasih. Aroma kuliner khas Dayak, Toraja, dan Minahasa menyeruak di antara kostum panitia yang penuh warna etnik. Mereka berkomitmen meninggalkan jejak kasih yang nyata bagi paroki tercinta di Bekasi. Semangat gotong royong ini menjadi bukti bahwa iman dapat tumbuh subur melalui akar budaya.

Senator Maya Rumantir, yang hadir dengan keanggunan khasnya, memberikan apresiasi mendalam terhadap tema talk show hari itu. Dialog bertajuk Keluarga yang Dipulihkan dibawakan dengan sangat bernas oleh Romo Eko Wahyu, OSC dan Romo Yustinus Ardianto, PR. Beliau menekankan bahwa tema ini bukan sekadar diskusi, melainkan sebuah kebutuhan mendesak bagi bangsa. Menurut ibu dari Kiara Hutasoit ini, keluarga adalah unit terkecil namun paling krusial dalam membangun struktur sosial yang sehat dan berintegritas di masa depan.

Senator Maya Rumantir mengingatkan umat Katolik untuk senantiasa menoleh pada rujukan keluarga teladan yang abadi. Bunda Maria dan Santo Yosef adalah cermin kesetiaan, ketaatan, dan kasih tanpa syarat bagi Yesus. Beliau mengajak setiap orang tua untuk merefleksikan peran mereka dalam membimbing anak-anak di tengah tantangan zaman. Dengan meneladani nilai-nilai kesucian dan tanggung jawab dari Keluarga Nazaret, setiap rumah tangga diharapkan mampu menghadapi badai kehidupan dengan iman yang teguh.

Lebih jauh, Senator Maya Rumantir mengeksplorasi konsep keluarga sebagai tiang utama dalam melahirkan generasi bersinar. Menuju visi Indonesia Emas 2045, kualitas manusia ditentukan oleh pola asuh dan pendidikan moral di dalam rumah. Jika keluarga rapuh, maka fondasi bangsa pun akan ikut goyah menghadapi persaingan global. Oleh karena itu, pemulihan keluarga menjadi agenda mendesak agar setiap anak tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih dan prinsip kebenaran.

Membangun keluarga emas memerlukan kesadaran kolektif untuk menempatkan Tuhan sebagai pusat dari segala keputusan hidup. Keluarga emas bukan berarti keluarga tanpa masalah, melainkan keluarga yang mampu bangkit dari kegagalan melalui pertobatan. Senator Maya Rumantir menekankan pentingnya komunikasi yang sehat dan saling memaafkan antar anggota keluarga. Hanya dengan hati yang pulih, sebuah rumah tangga bisa memancarkan cahaya kegembiraan dan menjadi berkat bagi lingkungan sekitarnya di mana pun berada.

Di sela acara, Senator Maya membagikan kesaksian emosional mengenai kekagumannya terhadap sosok Ibu Teresa dari Kalkuta. Beliau mengisahkan momen tak terlupakan saat berjumpa langsung dengan sang biarawati, di mana Ibu Teresa menitipkan doa khusus bagi perdamaian Indonesia. Kedekatan spiritual ini membawa Senator Maya hadir di tengah pesohor dunia saat pemakaman Ibu Teresa di India. Penghormatan terakhir tersebut menjadi bukti komitmen beliau dalam meneruskan api kasih sang idola melalui tindakan nyata.

Puncak emosional acara terjadi saat Senator Maya Rumantir melantunkan pujian berjudul Jalan Hidup Orang Benar. Suaranya yang jernih dan penuh penghayatan mengalun indah, menciptakan kegembiraan yang magis di dalam ruangan. Pujian ini terinspirasi dari Mazmur 37 ayat 23 sampai 24 yang menegaskan perlindungan Tuhan yang nyata. Liriknya berbicara tentang penyertaan Tuhan bagi mereka yang hidup dalam kehendak-Nya, memberikan penghiburan bagi hati yang sedang merasa lelah atau putus asa.

Hasto Kristianto, yang hadir sebagai umat Paroki Ibu Teresa Cikarang, tampak tersentak mendengar bait demi bait lagu tersebut. Lirik yang menyatakan bahwa orang benar jika jatuh tidak akan sampai tergeletak karena tangan Tuhan menopangnya, terasa sangat relevan. Pesan ini menyentuh sisi kemanusiaan terdalam tentang ketangguhan dan harapan di tengah kesulitan. Lagu ini seolah menjadi jawaban atas doa-doa bagi mereka yang sedang berjuang memulihkan hubungan keluarga yang sempat retak atau hancur.

Lirik lagu tersebut menjadi jembatan yang sempurna untuk merangkum seluruh pesan talk show tentang pemulihan keluarga. Bahwa dalam proses pemulihan, manusia tidak berjalan sendirian karena ada tangan perkasa yang siap menopang setiap langkah. Kegembiraan yang terpancar dari wajah Senator Maya Rumantir saat menyanyi menularkan keyakinan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Setiap keluarga yang ingin pulih pasti akan diberikan jalan jika mereka mau berserah dan berusaha dalam koridor kebenaran.

Malam mulai turun dan gerimis di Klender masih menitik pelan, namun cahaya harapan kini bersinar lebih terang. Pertemuan di Puspas Samadi telah menguatkan tekad umat untuk segera mewujudkan berdirinya Gedung Karya Pastoral Paroki Ibu Teresa. Impian panitia kini terasa semakin nyata dan dekat untuk segera dicapai demi pelayanan umat. Pulang dengan hati yang hangat, setiap peserta membawa pesan bahwa keluarga yang pulih adalah awal dari segalanya. Salve. (Recky P. Runtuwene).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *