Belajar Bertani dan Beternak Ikan di Kampoeng Djempol

TANGERANG,KITAKATOLIK.COM—Di atas tanah seluas 1750 meter persegi, berdiri aneka macam tanaman kebutuhan dapur dan makanan seperti kangkung, cabai, tomat, pakcoy, serai, jahe, lengkuas, panili, stroberi dan lain-lain. Ada juga pohon buah-buahan seperti advokat, jeruk dan pisang dan pipa paralon untuk tanaman hidroponik.

Di tengahnya berdiri sebuah rumah tanpa dinding atau pendopo dengan sebuah meja panjang berukuran besar dan berapa kursi di setiap sisinya.  Sedikit merapat ke pagar, ada belasan kolam bundar dan persegi empat, tempat pemeliharaan ikan lele dan nila.

“Di sini kami menanam sekitar 70 jenis tanaman dan beternak ikan lele dan nila,” kata Jacub Pratama, pencetus sekaligus pengelola Kampoeng Djempol yang terletak di Kompleks Nusa Loka BSD, Mekar Jaya, Tangerang Selatan, persis di belakang  Sekolah SoliDeo.

Bersama dengan Ketua Yayasan Cahaya Sinar Bangsa (YCSB) Yesaya Suharsono, Jacub menginisiasi dan menjadikan Kampoeng Djempol sebagai tempat dan pendopo workshop atau pelatihan Tani dan Ternak Organik Bersinar (T2OB).

Workshop ini bertujuan melatih umat agar di tengah pandemi covid memiliki kegiatan untuk menopang kebutuhan pokok dan sebagai salah satu sumber penghasilan,” kata Jacub saat menerima kunjungan pengurus  Perkumpulan Wartawan Media Kristiani Indonesia (PERWAMKI), Selasa (1/3/22) yang lalu.

Peserta dilatih cara memelihara lele dan nila serta berocok tanam tanaman kebutuhan dapur dan makanan lainnya. Bagi yang tak punya lahan luas, mereka dilatih bercocok tanam dengan hidroponik menggunakan pipa paralon dan kantong sepatu.

Jumlah peserta meningkat

Pelatihan T2OB mendapatkan momentumnya saat COVID-19 “menjajah” dunia, tatkala orang “takut” ke pasar dan tempat-tempat umum. Antusiasme umat untuk mengikuti pelatihan ini terus meningkat, meski digelar secara daring atau online karena patuh pada protokol kesehatan.

“Dua bulan setelah pandemi, tepatnya bulan Mei 2020, kami sudah sampai 8 kali melakukan pelatihan online di tempat ini. Awalnya hanya diikuti 20 orang peserta. Kemudian naik menjadi 30 orang peserta, dan naik terus sampai 80 orang dari berbagai daerah di Indonesia,” terang Jacub yang juga merupakan Bendahara Umum Pengurus Pusat Persekutuan Gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII) ini.

Selain bercocok tanam, para peserta juga diajarkan cara membuat pupuk sendiri dengan mengolah  bahan-bahan alami dari tanaman atau kotoran hewan. (Admin)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *