Imamat Ke-30 Romo Eduard C. Ratu Dopo, SJ.: Merenung Bersama Gus Dur dan Amir Hamzah

JAKARTA,KITAKATOLIK.COM—Imamat ke-30 Romo Eduard C. Ratu Dopo, SJ dirayakan penuh kegembiraan di Sporthall Colese Kanisius, Jakarta, pada Sabtu (23/7/2022).

Perayaan yang dikoordinir bersama oleh Panitia Pembangunan Ikon Pariwisata Religi Mataloko dan Paguyuban Keluarga Besar Ngada Jakarta (PKBNJ) ini dirangkai dengan dua pesta lainnya, yaitu  pesta Satu Abad Gereja Roh Kudus Paroki Mataloko dan 50 Tahun Membiara Suster Edith Watu, OSU.

Bersama dua imam projo asal Keuskupan Agung Ende, romo Edu memimpin Perayaan Ekaristi dengan iringan koor dari Ngada Ine Sina Choir dan tarian  misa dalam langgam Ngada,  tanah kelahiran Romo Edu dan Suster Edith Watu, OSU.

Tarikan dan pijakan

Dalam kotbahnya,  romo Edu yang merupakan pastor sulung Ordo Serikat Jesus dari Indonesia Bagian Timur, ini mengajak umat merefleksikan pernyataa Yesus “Kamu adalah sahabatKu, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu (Yohanes 15:14).

Yang menarik, refleksi tentang “sahabat Yesus yang taat pada perintahNya” itu dibingkai dengan refleksi sufistik  dari KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan  penyair legendaris Indonesia Amir Hamzah dalam sajak  “Padamu Jua”.

“Hidup kita di dunia ini ibarat berpijak pada tanah rawa-rawa. Kita membutuhkan tangan Tuhan dari bawah untuk menopang. Agar kita tidak terbenam dalam lumpur  rawa-rawa itu, maka butuh topagan dari bawah. Kita juga membutuhkan kekuatan dari atas, untuk menarik kita, agar kita tidak terbenam,” Romo Edu mengutip peryataan Gus Dur saat masih sebagai Ketua Umum PB NU. Sebagai pengurus Senat STF Driyarkara, romo Edu  ditugaskan menjemput Gus Dur.

Koor Ngada Ine Sina Choir

“Kita butuh tarikan tangan Tuhan. Kita butuh campur tangan ilahi supaya kita tidak tambah tenggelam dalam rumitnya masalah hidup yang kita hadapi. Pijakan kita juga harus kuat, yaitu di dalam tangan Tuhan. Jangan gara-gara, dan berpikir seolah-olah dia bisa  berjalan sendiri. Tanpa topangan Tuhan, kita pasti makin tenggelam dalam rawa-rawa kehidupan yang rumit-rumit itu,” tambah Direktur SMA Kolese Kanisius, Jakarta ini.

Tangkap lepas

Sementara dari syair Amir Hamzah, romo Edu menggambarkan hubungan “persahabatan” dengan Tuhan yang ditandai dengan dinamika “bertukar tangkap dengan lepas”. Dalam persahabatan dengan Tuhan itu, jelas  pehobi nonton sepak bola, ini  kita sering merasa dikerjain, dikasih tantangan, bahkan sampai ke ujung batas. Tapi kita harus maju terus dengan percaya bahwa Dia setia dan maha baik.

“Saya, juga suster Edith, mengalami bahwa hidup ini sebuah perjalanan bersama Tuhan. Dalam perjalanan itu, kita mengalami Tuhan sebagai sahabat, tapi sahabat  yang tukang kerjain kita juga. Dan Ia selalu bilang, ‘Saya yang pilih kau, bukan kau yang pilih saya. Saya tentukan, kapan Saya suruh kau tenggelam, kapan Saya angkat.’ Sebagai sahabatNya, tugas kita adalah taat pada perintahNya,” ujar romo Edu sambil membaca lengkap syair Amir Hamzah.

Berkaca pada penggalan puisi “Padamu Jua”, pastor Edu menegaskan bahwa dalam perjalanan hidup, ada penggalan hidup yang menakutkan, tapi ada juga yang memancing penasaran kita seumpama anak dara di balik tirai.

“Nanar aku, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara di balik tirai”

Sajak itu juga mengekspresikan perasaan diterima, kedekatan di satu sisi dan di lain sisi perasaan tertolak dan jauh dari Tuhan.

“Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lepas”

Tarian pengiring misa

Pengalaman ‘bertukar tangkap dengan lepas’ itu, tambah romo Edu,  sering dan berulangkali terjadi. Meski begitu, patut kita sadari selalu bahwa Tuhan selalu setia pada janji-janjiNya.

“Satu hal yang menjadi pegangan dalam perjalanan itu tadi adalah bahwa Tuhan itu setia. Ia sahabat yang tukang kerjain, tapi Dia setia. Dia kasih kita sakit, kita takut setengah mati sementara Dia lagi tertawa-tertawa. Tapi pada saatnya, Dia kasih kita kesembuhan kembali.”

Lokus wisata rohani

Setelah perayaan Ekaristi,  digelar ramah tamah dan makan malam dengan  menu khas Ngada.  Dilanjutkan beberapa  kata sambutan, antara lain dari Suster Edith Watu, OSU, Ketua PKBNJ Damianus Bilo dan Ketua Panitia Pembangunan Ikon Pariwisata Religi Mataloko, Dr. Aloysius Lele Madja.

Setelah melaporkan proses dan hasil renovasi Gereja Roh Kudus, Paroki  Mataloko, Aloysius mempresentasikan rencana pembangunan Salib Raksasa di Puncak Wolosasa yang berukuran 5 x 5 Meter dengan tinggi salib 30 meter di Malaloko. Selain  bermotif religius, pembangunan situs wisata rohani tersebut diharapkan dapat menaikkan kesejahteraan umat dan masyarakat setempat.

 “Kita ingin membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat  setempat  melalui pariwisata yang merupakan salah satu pilar pembangunan ekonomi, yang mencakup hampir semua bidang, mulai dari transportasi, akomodasi, budaya, kuliner, religi, pertanian, kerajinan, ekowisata yang beragam dan sebagainya,” kata Aloysius yang sebelumnya  menjabat Duta Besar Chilli ini. (pamago)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *