Indonesia dan Takhta Suci Sepakat Internasionalisasikan Nilai-nilai Pancasila

ROMA, KITAKATOLIK.COM—Indonesia dan Takhta Suci sepakat untuk menginternasionalisasikan nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, dalam upaya menciptakan perdamaian, keadilan sosial, dan penghormatan pada nilai-nilai serta martabat manusia.

Hal itu terkandung dalam pidato Dubes  RI untuk Takhta Suci, Michael Trias Kuncahyono dan Menteri Hubungan Antar-Negara dan Organisasi Internasional (Menlu) Vatikan, Mgr. Paul Richard Gallagher, pada acara Resepsi Diplomatik di KBRI untuk Takhta Suci, Vatikan, Senin (26/10). Resepsi Diplomatik diadakan untuk memperingati HUT Kemerdekaan RI ke – 81 dan ulang tahun ke – 76, Hubungan Diplomatik Indonesia dan Takhta Suci.

Selain Menlu Gallagher, yang hadir pada acara itu adalah para Duta Besar negara sahabat, pejabat Vatikan, pastor-suster, serta tamu kehormatan lainnya. Dubes RI untuk Takhta Suci Michael Trias Kuncahyono dan istri, Atiek Kuncahyono, bertindak sebagai tuan rumah.

Nilai-nilai Pancasila

“Berlandaskan nilai – nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, Indonesia  bersama dengan Takhta Suci akan terus berusaha  mempromosikan dan memperjuangkan perdamaian,  keadilan sosial dan saling menghormati bagi setiap manusia” kata Dubes Trias.

Dengan nilai-nilai itu pula, Indonesia terus mendukung Palestina untuk menyelesaikan konflik Israel – Palestina secara adil. Yakni lewat penyelesaian “Two-State Solution”, penghentian semua tindakan melanggar martabat dan nilai kemanusiaan, dan terbukanya akses bantuan kemanusian.

Dubes Trias juga menyinggung perlunya segera perang di Ukraina diselesaikan lewat perundingan damai, sesuai dengan Piagam PBB dan Hukum Internasional. Upaya tersebut perlu mendapat dukungan dari negara-negara pecinta damai.

Mgr. Gallagher sepakat dengan hal tersebut. “Filosofi Pancasila bangsa Indonesia  dikenal dengan sangat baik oleh Takhta Suci,” kata Mgr. Gallagher. “ Bahkan, menurut Mgr Gallagher, nilai – nilai Pancasila dipandang sejalan dengan ajaran sosial Gereja Katolik.

Mgr. Gallagher menyebut pula kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia, September 2024. Pada kesempatan itu,   Paus Fransiskus mengungkapkan  kekagumannya terhadap Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, antara lain diwujudkan melalui Terowongan Silaturahim yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Maria Assumpta, Jakarta.

Kata Paus Fransiskus ketika  itu, terowongan tersebut merupakan wujud nyata kerukunan antarumat beragama di Indonesia. “Kerja sama internasional dan komitmen lintas agama  menjadi unsur penting dalam menghadapi tantangan global dan mewujudkan kehidupan yang lebih damai dan berkeadilan,” kata Mgr. Gallagher dalam pidatonya.

Salah satu komitmen lintas agama yang harus terus digaungkan adalah “Deklarasi Istiqlal.”  “Deklarasi istiqlal yang ditandatangani pada tanggal 5 September 2024 oleh mendiang Paus Fransiskus dan Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, merupakan komitmen  yang harus menjadi legasi untuk mengingatkan kita tentang perdamaian yang tidak  terbatas oleh wilayah dan agama,” kata Dubes Trias.

Diplomasi Budaya

Lebih dari sekadar perayaan, Resepsi Diplomatik ini menjadi momentum untuk  memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia sekaligus mempererat hubungan  persahabatan antara Indonesia dan Takhta Suci serta komunitas internasional. Hal itu diwujudkan dengan ditampilkannya “Kelompok Karawitan Gong Wisnu Wara.” Kelompok karawitan ini beranggotakan para dosen dan mahasiswa Universitas La Sapienza, Roma, dan pecinta seni-budaya Jawa lainnya.

Kelompok Karawitan Gong Wisnu Wara adalah sebuah proyek yang lahir pada tahun 1990-an berkat komitmen Giovanni Giuriati, seorang profesor etnomusikologi di Universitas La Sapienza Roma. Dalam beberapa dekade terakhir, grup ini bekerja sama dengan  KBRI Takhta Suci melalui mekanisme Nota Kesepahaman dimana Kedutaan menyediakan alat musik gamelan dan ruang untuk latihan para pemain.

Alunan gamelan Jawa dari “Gong Wisnu Wara” membuka acara Resepsi  Diplomatik. Mereka melantunkan beberapa tembang  Jawa seperti seperti Ricik Ricik  Banyumasan dan Ayun Ayun Gobyog, diiringi gamelan.

Pada kesempatan itu tampil pula Fiorella Cardinale, seorang warga negara Italia, yang sedang menyelesaikan studi doktoralnya bidang Seni Tari, menarikan Tari Selendang Jawa. Ia mempelajari tarian itu dari seorang penari Jawa yang pernah singgah di Italia.

Para biarawan dan biarawati ambil bagian juga dalam Resepsi Diplomatik. Para biarawati dari Kongregasi Suster Katekis Hati Kudus, menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, untuk mengawali resepsi. “Sebagai orang Indonesia, saya sangat bangga dan terharu bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya, pada acara penting ini,” kata Suster Josephine, salah seorang  biarawati yang menjadi anggota Aubade .

Para Pastor juga tampil menghibur para undangan dengan menyanyikan lagu Indonesia dari Sumatera Utara Mbiring Manggis,  lagu berbahasa Italia Che Sarà dan lagu  berbahasa Inggris Haleluya.

Saat ini, KBRI untuk Takhta Suci mengampu seluruh biarawan dan biarawati WNI yang  tinggal di Italia dan Vatikan. Per September 2026, jumlahnya adalah sekitar 1873 orang. Umumnya para suster melayani di Kongregasi dan studi di Italia. Sedangkan untuk para Pastor, Frater dan Bruder, mayoritas menempuh studi S2 dan S3 di  Universitas Kepausan.

Selama acara juga disajikan makanan – makanan Indonesia seperti cenil, nogosari,  getuk singkong, serta sosis solo dan lumpia. (Admin/KKBRI Vatikan).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *