Selasa (24 September 2024): Mau Jadi Keluarga Yesus! Dengarkan dan Lakukanlah Firman Allah! (Lukas 8: 19-21)

Ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya, tetapi mereka tidak dapat mencapai Dia karena orang banyak. Orang memberitahukan kepada-Nya: “Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu  ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau.” 

Tetapi Ia menjawab mereka: “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku   ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.  (Lukas 8: 19-21).

Oleh: Romo John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng.

MENGAPA pesan Sabda Tuhan yang dibacakan atau dijelaskan dalam Misa (Harian dan Hari Minggu) seringkali tidak sungguh-sungguh  diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari? Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah perilaku atau sikap  kita  pada saat Sabda Tuhan dibacakan atau dijelaskan.

Apakah kita  fokus dan sungguh-sungguh mendengarkan Sabda Tuhan yang dibacakan oleh lektor/lektris dan imam? Apakah kita serius dan konsen mendengarkan kotbah untuk k mengambil “benang merahnya” untuk  kehidupan harian? Kalau kita tidak  konsen dan fokus,  tentu Sabda Tuhan tidak sungguh meresap dalam hati; dan kalau tidak  meresap dalam hati bagaimana mungkin Sabda itu “menggerakkan” kita untuk bertindak?

Sabda Tuhan itu pada dasarnya menggerakkan kita, tetapi dituntut peran serta kita sebagai  pendengar dan pelaksana Sabda Allah. Sebagai pendengar Sabda Allah,   kita  perlu fokus dan konsern, perlu memiliki kemauan, kehendak yang kuat serta  memiliki sikap yang pantas agar Sabda Allah itu bekerja (berdaya  guna) dalam diri dan hidup kita.

Ingat, setelah  membacakan Injil imam atau diakon mengecup Inji (Evangeliarium) sambil berkata dalam hati: “Semoga karena pewartaan Injil ini dileburkan dosa-dosa kita!” Atau kalau ada Uskup, beliau berkata: “Semoga karena pewartaan Injil ini, dosa-dosa kami dihapuskan!”

Kita perlu menyediakan telinga dan hati  supaya dapat menangkap pesan Sabda Tuhan dengan  baik. Kemampuan  dan kehendak kuat untuk  mendengarkan Sabda Tuhan itu, kemudian mewujudkannya dalam hidup sehari-hari  inilah yang dijadikan ukuran oleh Yesus untuk  menentukan apakah seseorang (kita)  boleh disebut ibu Yesus dan saudara-saudari Yesus. “IbuKu dan saudara-saudaraKu ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya!” (Lukas  8:21).

Bunda Maria adalah contoh pribadi yang sungguh-sungguh mendengarkan Sabda Tuhan dan melaksanakannya. “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu!” kata Maria kepada  malaekat pembawa berita tentang kelahiran Yesus. (Lukas  1:18). Selamat menjadi saudara Yesus, sesama dan alam ciptaan/lingkungan hidup lainnya.  Kita  berusaha untuk seperti Maria menjadi pendengar dan pelaksana Sabda Allah yang setia.

Semoga Allah Tritunggal Mahakudus (+) memberkati kita  sekalian  yang menjadi saudara Yesus, saudara sesama, saudara alam ciptaan/lingkungan hidup lainnya dengan tekun mendengarkan, menghayati dan melaksanakan Sabda dan kehendak Allah. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *