Menurut pemandu Wisata Kreatif Jakarta, Ira Lathief, dalam wisata virtual bertema Sumpah Pemuda pada Rabu (30/10/2020) malam seperti dilansir Kompas (31/10/2020), ide terjadinya Kongres Pemuda II di area Gereja Katedral muncul dari aktivis Jong Ambon, Johannes Leimena. Saat itu, Leimena mengusulkan kepada para aktivis lain untuk menggunakan aula Gedung Katholieke Social Bond yang luas dan bisa menampung banyak peserta kongres.

Kongres tersebut dihadiri oleh 750 orang yang berasal dari pelbagai organisasi pemuda di Tanah Air. Mereka berbeda-beda suku, agama, juga golongan. Ada perwakilan dari Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), Pemuda Indonesia, Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Islamieten Bond, Pemuda Kaum Betawi, Sekar Rukun, dan sebagainya.
Moehammad Jamin, yang berasal dari Jong Sumatranen Bond, menguraikan tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Dikutip dari Kompas.com (28/10/2020), Jamin menyebut lima faktor yang dapat memperkokoh persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan dan kemauan.
Rapat kedua dilaksanakan pada 28 Oktober di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Rapat ketiga membahas pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan yang digelar di Gedung Indonesische Clubhuis Kramat.
Sebelum konggres ditutup, diumumkn rumusan hasil kongres yang disebut Sumpah Pemuda. Isinya: “Pertama, Kami Poetra dan Poetri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, Tanah Indonesia; Kedua, Kami Poetra dan Poetri Indonesia, mengakoe bangsa jang satoe, Bangsa Indonesia; Ketiga, Kami Poetra dan Poetri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.”
W.R. Soepratman
Jejak peran Katolik dalam ikrar Sumpah Pemuda 1928, juga tergambar dari kehadiran dan peran beberapa umat Katolik yang ikut dalam Kongres II Pemuda tersebut, termasuk dalamnya Wage Rudolf Soepratman (WRS) pengarang lagu “Indonesia Raya”.
Karier WRS dalam bermusik tidak terlepas dari peran kakak Iparnya W.M. Van Eldick yang memberikan hadiah sebuah biola saat ulang tahunnya yang ke-17. Bersama dengan Van Eldik, Ia mendirikan Grup Jazz Band bernama Black And White.
Kepandaian WRS dalam bermusik dimanfaatkannya untuk menciptakan lagu-lagu perjuangan, yang salah satu diantaranya ditetapkan sebagai Lagu Kebangsaan Republik Indonesia, Indonesia Raya.
Keterlibatan WRS dalam dunia pergerakan mulai menonjol saat dia menjadi wartawan Surat Kabar “Sin Po” pada 1925. Ia rajin menghadiri rapat-rapat organisasi pemuda dan rapat-rapat partai politik yang diadakan di Gedung Pertemuan di Batavia. Di situ dia berkenalan dengan tokoh-tokoh pergerakan.

Dalam pelaksanaan kongres Pemuda Kedua pada 27-28 Oktober 1928, WR Supratman ikut terlibat. Untuk pertamakalinya Ia memperdengarkan lagu Indonesia Raya dengan iringan gesekan biolanya di depan seluruh peserta kongres sebelum dibacakannya Putusan Kongres Pemuda yang dikenal sebagai Sumpah Pemuda. (admin/dbs)

