Di lain kesempatan, ia terlihat berbaur dengan para ibu di sekitar tempat tinggal mereka yang sedang mempersiapkan sebuah hajatan. Kerukunan, tulis suster Regina mengomentari foto tersebut, akan terjadi bila kita berani menemui tetangga-tetangga kita untuk berdialog.
Itulah beberapa tangkapan kegiatan yang dipresentasikan oleh suster Regina yang sejak Januari 2020 ditugaskan sebagai Penyuluh Agama Katolik non-PNS di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Selain sebagai penyuluh, kelahiran Kediri, 29 Agustus 1982 ini ditugaskan konggregasi sebagai katekis di paroki Santo Paulus Jajag, Keuskupan Malang.
Presentasi berupa video dan esai tentang kegiatan penyuluhan selama masa pandemi COVID-19 di tahun 2020-2021 itu dibuat sebagai kelengkapan mengikuti seleksi pemilihan Penyuluh Agama Katolik Teladan Tingkat Nasional Tahun 2021 yang digelar oleh Bimas Katolik Kementerian Agama RI. Ia mewakili Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Seleksi yang dimulai pada Maret 2021 itu dilakukan dalam tiga tahap. Mulai dari pengumpulan data penyuluhan yang dibuat dalam format video, validasi data ke lokasi penyuluh dan tahap terakhir adalah presentasi karya tulis ilmiah.
Puncaknya, pada Senin, 11 Oktober 2021, suster Regina diumumkan sebagai Juara Pertama Penyuluh Agama Katolik Teladan non-PNS Tingkat Nasional Tahun 2021. Bertempat di Ballroom Hotel Redtop, Pacenongan, Jakarta Pusat, ia menerima piagam kejuaraan dan uang pembinaan bersama kelima pemenang lainnya.
Hasil Kerja Seluruh Umat
Suster Regina menebak bila ia keluar sebagai pemenang karena esai dan video aktivitas penyuluhannya berbeda dengan peserta lainnya.
“Kebanyakan dari mereka menyoroti digitalisasi pembinaan umat selama pandemi misalnya melalui pemanfaatan media sosial. Saya juga bercerita tentang penggunaan media sosial, tapi beda dengan mereka, saya lebih banyak menyoroti kegiatan kita di tengah dan kepada masyarakat sekitar. Esai dan video yang saya kirimkan mengungkap gerak pastoral saya bersama gereja dan umat paroki santo Paulus Jajag saat menangani dampak dari pandemic COVID-19,” katanya.
Memang, video dan esai yang ia kirimkan itu pas dengan tema besar “Moderasi Beragama Umat Rukun Indonesia Maju dan Mandiri” dan sub-tema “Peran Penyuluh Agama Katolik sebagai Agen Moderasi Beragama dalam Mempersatukan Bangsa” yang disodorkan oleh Bimas Katolik.
Karena rentetan aktivitas yang menghantarnya menjadi juara pertama merupakan kerja bersama umat dan masyarakat sekitarnya, Suster Regina menganggap pencapaiannya itu sebagai pencapaian bersama, bukan dirinya sendiri.

“Ini hasil kerja dari seluruh umat Paroki, bukan kerja saya sendiri. Saya hanya menyampaikan apa yang sudah kami lakukan di sini. Jadi saya sebenarnya mewakili umat, gereja dan komunitas dalam kerjasama dengan banyak instansi, baik pemerintah, ormas, masyarakat dan para tokoh agama,” katanya.
Gereja yang memasyarakat
Suster Regina mengakui bila apa yang dilakukan selama masa pandemi COVID-19 itu sesuai dengan kebijakan pastoral paroki yang lebih menekankan “gerak keluar”. Saat COVID-19 datang dan banyak orang mengurung diri dalam rumah, gerak pastoral diarahkan keluar. Umat diajak untuk peka dan terlibat membantu sesama yang terisolasi.
Baca Selanjutnya …

