Bersama umat Paroki lainnya, suster Regina juga terlibat dalam kegiatan bagi-bagi masker, penyuluhan Prokes 5 M dalam kerjasama dengan PPKM mikro di desa yang berposko di gereja.

“Kita juga bekerja sama dengan Gusdurian peduli, Laskar Hijauh, aparat pemerintahan, anggota DPRD Banyuwangi dan sebagainya. Saya ajak umat binaan di paroki untuk mau keluar. Jadi kami di sini lebih aktif keluar untuk menangani dampak dari pandemi ini,” katanya.
Suster Regina mengaku sangat didukung oleh Pastor Paroki Romo Fajar Tedjo Soekarno yang juga anggota Komisi HAAK (Hubungan Antara Agama dan Kepercayaan) Keuskupan Malang. Romo paroki ini memang terbiasa terlibat dalam aktivitas masyarakat lintas agama.
Apresiasi Masyarakat
Prestasi suster Regina sebagai Juara pertama itu mendapatkan apresiasi dari banyak pihak, juga dari Bupati Banyuwangi Hj. Ipuk Fiestiandani. Ia berterima kasih kepada suster Regina yang memberikan pendampingan dan keteladanan.
“Pemilihan Penyuluh Agama Katolik Teladan diselenggarakan oleh Ditjen Bimas Katolik Kementerian Agama sangat memberi kontribusi terhadap stabilitas kerukunan umat beragama dan membangun moderasi beragama yang lebih harmonis dan memiliki dampak besar bagi masyarakat wilayah Banyuwangi dan lebih luas lagi terhadap NKRI,” katanya di ruang kerjanya di Kantor Bupati Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa (26/10/2021).
Suster Regina diundang khusus dan datang bersama Romo Fadjar Tedjo Soekarno Pr, anggota Komisi HAAK Keuskupan Malang dan beberapa suster lainnya.
“Saya bergembira dan bangga atas prestasi yang telah diraih suster Maria Regina,” kata Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, H. Slamet, M.HI di ruang kerjanya, Senin (25/10/2021).

Penyuluh agama Katolik, kata dia, adalah pewarta kabar gembira yang menyampaikan pesan-pesan agama dan pembangunan melalui bahasa agama. Penyuluh agama juga adalah garda terdepan dan benteng dalam pertahanan NKRI.
“Penyuluh harus menjadi teladan dan agen moderasi beragama, agen literasi keagamaan dan agen perubahan sosial bagi umat Kabupten Banyuwangi,” tambahnya.
Di usia 25
Panggilan untuk menjadi suster sebenarnya sudah tertanam dalam dirinya sejak kecil. Ia mengaku tertarik untuk mengikuti panggilan khusus ini karena cinta Tuhan yang dirasakan dan dialaminya.
Saat peralihan dari masa kanak-kanak ke remaja, ia pernah berjanji sama Tuhan bahwa pada usia 25 tahun, ia akan menjadi suster.
Setamat SLTA, kelahiran Kediri ini sempat merantau ke Jakarta dan bekerja di salah satu PJTKI (Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia) yang beralamat di Jakarta Selatan, dengan tugas utama mengurus Visa dan lainnya. Kemudian ia berangkat ke Batam dan bekerja sebagai trainer di PT Panasonik.

Di Batam, pada tahun 2008, saat usianya menginjak 25 tahun, ia menepati janjinya kepada Tuhan: Masuk biara.
“Saya ingin membalas cinta Tuhan yang begitu besar kepada saya dengan lebih serius melalui pelayanan yang total. Saya mau menyerahkan hidup saya untuk pelayanan yang total itu,” ia mengungkapkan motivasinya masuk biara.
Dari tahun 2008 sampai 2011 ia menjalani pembinaan di biara Kongregasi Hermanas Carmelitas (Hermanas de la Virgen Maria del Monte Carmelo) di Malang. Setelah memakai pakaian suster, ia bertugas di Paroki Santo Paulus Jajag dari 2011 hingga 2013.
Ia melanjutkan studi pastoral di Sekolah Tinggi Pastoral IPI (Institut Pastoral Indonesia) Malang dari tahun 2013 sampai 2018. Sebagai bagian dari proses akhir perkuliahan, suster Regina melakukan KKN dari tahun 2016-2017 di Jajag.
Lalu, setelah sempat bertugas di Novisiat, sejak 2019, suster Regina ditunjuk sebagai katekis di Keuskupan Malang dan ditempatkan di Gereja Santo Paulus, Jajag. (Paul MG)

