KITAKATOLIK.COM—Sejak Rabu (18/2/2026) yang lalu, umat Katolik seluruh dunia mulai memasuki masa Pra-Paskah, momen berahmat untuk bertobat dan pembaharuan diri yang berpuncak pada Paskah nanti. Terdapat tiga kegiatan utama yang dilakukan setiap umat dalam mengisi PraPaskah ini, yaitu Puasa (dan pantang), berdoa (misa dan jalan salib) dan beramal kasih (APP = Aksi Puasa Pembangunan, berderma atau memberi sedekah).
Koyakkan Hati
Ketiga kegiatan utama – berpuasa, berdoa, bersedekah — tersebut mesti dilaksanakan dalam diam, berpusat pada hati dan mulai dari dalam hati.
“Pertobatan itu mulai dari dalam. Bukan hanya di kulit, di luar, tapi dari dalam diri kita yang mau bertobat, mau menyesal atas dosa-dosa, mau berdamai dengan Allah dan juga dengan sesama,” kata Pastor Cornelius Balok Priyanto, OSC, saat memimpin Perayaan Ekaristi Rabu Abu (18/2/2026) di Paroki Curug, Santa Helena, Lippo Karawaci, Tangerang.
Mengutip bacaan pertama hari itu, Pastor Balok menegaskan, yang perlu diperbaiki adalah perubahan radikal dari dalam hati. “Koyakanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukumanNya!” katanya mengutip Yoel 2 ayat 13.
Selama masa PraPaskah ini, lanjut dia, kita mesti berbalik kepada Tuhan dengan segenap hati, berbalik 180 derajat, menyenangkan hati Tuhan.
“Dengan berpuasa, kita menangis menyesali dosa. Kita koyakkan hati kita. Kita bertobat, bukan hanya di permukan, hanya kelihatan saja, ikut ritus-ritus berpuasa saja. Itu memang bagus, tapi lebih pada dari hati. Dengan demikian kita berubah, dan selamat. Kita bertobat bukan supaya Tuhan senang, tapi agar kita selamat,” tambahnya.
Berdamai dengan Tuhan
Ketiga kegiatan utama tersebut juga mesti bermuara pada perdamaian dengan Allah. Kita ini orang berdosa, menjadi musuh Allah. Dan karena itu musti didamaikan dengan Tuhan.

“Tak ada jalan lain selain melalui Tuhan Yesus. Dialah yang mendamaikan kita dengan Allah, BapaNya. Dengan wafatNya di kayu Salib, kita diselamatkan dan diperdamaikan dengan Allah. Jadi jangan sia-siakan kasih karunia yang sudah kita terima berkat pengorbanan Kristus. Kita selamat bukan karena usah kita, kita selamat karena berkat pengorbanan Kristus,” jelas pastor Balok yang sehari-hari melayani sebagai pastor rekan di Paroki Curug, Santa Helena ini.
Ganjaran dari Tuhan
Lalu, upah atau ganjaran dari ketekunan melaksanakan ketiga kegiatan tersebut, bukan dari manusia, tapi dari Allah sendiri. Seperti pesan Kitab Suci, lakukanlah segala kewajiban agamamu – berdoa, berpuasa, amal kasih – dengan tersembunyi, tidak digembar-gemborkan.
“Ketika kita melakukan dengan digembar-gemborkan, mungkin ada orang yang memuji kita. Jadi sebetulnya kita telah menerima upah. Kalau sudah mendapatkan upah dari dunia, kita tidak mendapatkan upah dari Tuhan. Tapi kalua kita melakukan dengan tersembunyi, di dalam ketersembunyian, maka yang tahu hanya Tuhan dan kita niscaya mendapatkan ganjaran dariNya. Dan kalau Allah yang memberikan ganjaran, biasanya berkali-kali lipat,” jelasnya. (Admin).

