Ketika Lagu Pop Profan “Bukan Cinta Biasa” dan “Rumah Kita” Jadi Lagu Persembahan dan Komuni

LEMBATA, NTT, KITAKATOLIK.COM—Dengana atasan baju warna putih dan kain sarung motif Flores Timur, NTT, peserta koor menyanyikan lagu pengantar persembahan dengan syair yang tak biasa. Lagu  Pop “Cinta Luar Biasa” yang dikarang oleh Andmesh Kalameng itu dinyanyikan utuh.

“Waktu pertama kali, Kulihat dirimu hadir, Rasa hati ini inginkan dirimu, Hati tenang mendengar, Suara indah menyapa geloranya hati ini tak ku sangka, Rasa ini tak tertahan,
Hati ini selalu untukmu, Terimalah lagu ini dari orang biasa, Tapi cintaku padamu luar biasa,
Aku tak punya bunga, Aku tak punya harta, Yang kupunya hanyalah hati yang setia tulus padamu…”

Meski lagu itu adalah lagu pop profan, bukan lagu liturgis seperti termuat dalam buku Puji Syukur atau partitur gerejani lainnya, Pastor berbusana kasula merah yang memimpin Perayaan Ekaristi tersebut terlihat tak bereaksi  atas penggunaan lagu profan untuk pengantar persembahan. Ia terlihat ke depan dan mengambil bahan persembahan umat yang diantarkan oleh dua gadis kecil.

Hal tersebut terulang lagi saat komunio, bagian Perayaan Ekaristi yang sangat penting. Kali ini lagu”Rumah Kita” dari kelompok musik God Bless.

Cuplikan video amatir yang ditayangkan di laman FB seseorang itu, dan viral pada Rabu (3/8/2022) tersebut, sontak menimbulkan kontroversi sengit, baik di facebook, maupun di media-media lainnya.

Menarik anak muda?

Belakangan diketahui bahwa hal kontroversial tersebut terjadi di salah satu stasi, bukan di dalam gereja, yang berada dalam Paroki Santo Fransiskus Asisi, Lamahora, Lembata, NTT yang digembalakan oleh imam dari Ordo C.SS.R.

Salah seorang yang mengaku sebagai salah seorang anggota MUDIKA bernama FB Andika Putra mengaku salah dan meminta maaf, tapi dia juga mengaku bila lagu itu sudah disetujui  oleh pastor.

BACA JUGA:  Ini Klarifikasi Terkait Lagu “Cinta Luar Biasa” dan “Rumah Kita” untuk Lagu Misa   https://www.kitakatolik.com/ini-klarifikasi-terkait-lagu-cinta-luar-biasa-dan-rumah-kita-untuk-lagu-misa/

“Saya mewakili teman-teman OMK minta maaf kalau salah. Tapi perlu diketahui bahwa lagu yang kami bawakan, sudah disetujuioleh pastor sendiri,” katanya. Dia juga menambahkan bahwa konsep lagu itu adalah konsep anak muda, di mana sekarang anak muda kita kita kurang bergabung dengan komunitas gereja yang ada.

“Kami  buat seperti ini untuk menarik anak muda untuk bisa bergabung dalam komunitas gereja, dan saya  rasa lagu itu tidak salah juga, kalau lagu itu dihayati dengan baik,”  tulisnya.

Spontan, pemakaian lagu pop untuk konteks liturgis, apalagi dalam perayaan Ekaristi tersebut, ditentang oleh banyak pihak. Ada yang menganggapnya sebagai kreativitas yang kebablasan karena hanya hanya mengabdi  pada  kepetingan praktis – untuk mengumpulkan anggota —  sambil mengabaikan hal  terpenting yaitu prinsip liturgis.

Lagu liturgis untuk liturgi

Pastor Yanto Yohanes Ndona, OCarm, MALit menegaskan bahwa lagu untuk kepentingan liturgi (yang puncaknya adalah Ekaristi) haruslah merupakan lagu liturgi dan tidak bisa dengan seenaknya diganti dengan lagu lagu yang bukan lagu liturgi.

“Lagu liturgi adalah lagu-lagu yang memang digubah untuk kepentingan liturgi dan peribadatan yang memiliki bobot liturgis dan di dalamnya terdapat unsur teologis karena syair-syairnya diambil dari Kitab Suci dan ajaran-ajaran resmi Gereja (SC 121). Jadi bukan sekedar lagu biasa yang hanya menekankan aspek perasaan manusiawi belaka,” tulis master dalam bidang liturgi ini.

Ia menambahkan bahwa tujuan lagu liturgi adalah sama sebagaimana tujuan liturgi itu sendiri yaitu glorifikasi dan santifikasi. Glorifikasi adalah tujuan memuji dan memuliakan Tuhan dan santifikasi adalah tujuan agar Allah menguduskan kita.

“Penekanan yang mesti diingat adalah bahwa lagu liturgi adalah lagu yang mestinya mengabdi pada kepentingan ibadat. Dokumen Konsili Vatikan II Sacrosanctom Concilium no 112 dengan jelas menggarisbawahi bahwa musik liturgi semakin suci, bila semakin erat berhubungan dengan upacara ibadat, entah dengan mengungkapkan doa-doa secara lebih mengena, entah dengan memupuk kesatuan hati, entah dengan memperkaya upacara suci dengan kemeriahan yang lebih semarak.”

Refleksi buat semua

Terlepas dari sikap menyalahkan  atau saling mempersalahkan, Pastor Yanto menegaskan bahwa kejadian ini memantulkan kurangnya pemahaman atas musik liturgi itu sendiri.

“Kita mesti jujur bahwa sampai sejauh ini isi dari pembaharuan liturgi pasca konsili Vatikan II yang sudah ditutup tahun 1965 itu belum cukup dipahami oleh semua umat bahkan juga imam. Karena kurang paham inilah maka berbagai experiment baru terus bermunculan,” tulisnya.

Konstitusi liturgi art. 115 menegaskan:  Pendidikan dan pelaksanaan musik liturgi hendaknya mendapat perhatian besar di seminari-seminari, di novisiat-novisiat serta rumah-rumah pendidikan para religius pun juga di lembaga-lembaga lainnya dan disekolah-sekolah katolik.

“Untuk melaksanakan pendidikan seperti itu hendaknya para pengajar musik liturgi disiapkan dengan saksama. Kecuali itu dianjurkan, supaya bila keadaan mengizinkan didirikan Lembaga-lembaga Musik Liturgi tingkat lebih lanjut. Para pengarang lagu dan para penyayi, khususnya anak-anak, hendaknya mendapat kesempatan kesempatan untuk pembinaan liturgi yang memadai.”  (Admin/dbs)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *