Plt Dirjen Bimas Katolik: Keluarga adalah Sekolah Moderasi Beragama

SURABAYA,KITAKATOLIK.COM—Keluarga Katolik merupakan sekolah moderasi beragama. Di sanalah hakekat moderasi beragama, yaitu hidup bersama orang lain serta menerima nilai-nilai luhur dan warisan iman, dialami dan dihayati sejak dini.

“Keluarga Katolik menjadi tempat utama di mana doa diajarkan, perjumpaan dengan Allah yang membawa sukacita dialami, iman ditumbuhkan, dan keutamaan-keutamaan hidup ditanamkan. Itulah sekolah moderasi beragama di mana seseorang bisa mencintai Alllah dan sesama, mencintai gereja dan bangsa dengan sepenuh hati,” kata Pelaksana Tugas Dirjen Dirjen Bimas Katolik A.M. Adiyarto Sumardjono saat membuka kegiatan Pembinaan Para Pembina Keluarga Regio Jawa di Hotel Grand Mercure Surabaya, Sabtu (12/03/2022).

Pemerintah, jelas Plt. Dirjen, memandang keluarga fundamental dalam menyukseskan program Moderasi Beragama. Karena itu, Ditjen Bimas Katolik terus berupaya meningkatkan kualitas dan intensitas pembinaan keluarga yang menjadi salah satu program prioritas dalam Rencana Strategis Tahun 2020-2024.

“Pembinaan itu meliputi pembinaan bagi para pembina keluarga Katolik, kaum muda yang akan menjadi calon keluarga Katolik, persiapan bagi calon pasangan suami istri, pembinaan bagi keluarga yang telah menikah, dan pembinaan bagi keluarga-keluarga lanjut usia,” jelas Plt. Dirjen di hadapan 50 orang pembina keluarga di regio Jawa yang mengikuti kegiatan ini.

Dalam implementasinya, pembinaan ini dilakukan bersama dengan Gereja Katolik melalui berbagai bentuk yang sesuai dengan kebutuhan. Salah satunya lewat kerja sama penyusunan modul Pembinaan Keluarga Katolik dengan Komisi Keluarga Konferensi Waligereja Indonesia pada tahun 2020. Saat ini modul tersebut sudah diterima oleh seluruh keuskupan di Indonesia, tambah Plt. Dirjen.

Kerja sama itu, jelas dia seperti dilansir situs resmi bimaskatolik kemenag, menunjukkan keseriusan Pemerintah dan Gereja untuk membangun keluarga-keluarga Katolik yang tidak saja matang dalam iman tetapi juga unggul dalam kemanusiaan.

“Iman keluarga Katolik itu harus juga dialami secara sosial melalui kepedulian terhadap orang lain, pelayanan tulus terhadap sesama, penghargaan tanpa syarat pada kemanusiaan, dan keteladanan hidup,” harapnya. (admin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *